MASJIDALABRAR.COM – Malam Tarawih ke-14 di Masjid Besar Al-Abrar, Jalan St. Alauddin No. 82 Makassar, menghadirkan suasana yang patut direnungkan. Saf-saf yang pada awal Ramadan begitu padat dan rapat, kini mulai tampak maju ke depan. Ada ruang-ruang kosong yang dulu tak terlihat.
“Dahulu saf jamaah padat. Sekarang barisan agak maju,” ujar Sariun Said, teknisi andalan masjid itu, lirih namun penuh makna. Sebuah pengamatan sederhana, tetapi menyentil kesadaran:
Idealnya, semakin mendekati penghujung Ramadan, semakin rapat pula langkah dan niat berjamaah.
Di atas mimbar, Muhammad Ilham, S.Pd., Dg Naba, mengumumkan penceramah malam itu: Dr. dr. Noer Bachri Noer. Salam pembuka beliau disambut antusias jamaah. Namun sebelum memasuki inti tausiah, beliau memulai dengan pengakuan yang jujur dan membumi.
“Sekarang saya salat pakai kursi,” tuturnya. Engkol tumitnya tak lagi nyaman dilipat lama. “Kalau tidak enak, tidak tuma’ninah. Padahal dalam salat harus ada tuma’ninah.”
Apa itu tuma’ninah? Tenang. Diam yang penuh kesadaran. Gerak yang tidak tergesa. Jiwa yang tidak berlari ke mana-mana.
Tuma’ninah bukan hanya dalam rukuk dan sujud. Ia juga harus hadir dalam pendidikan, dalam kehidupan, dalam menjalani seluruh rangkaian Ramadan—dari malam pertama hingga malam terakhir. Ramadan, kata beliau, adalah madrasah ketenangan.
Beliau kemudian mengingatkan, seandainya seorang hamba benar-benar tahu nilai Ramadan, niscaya ia akan memohon agar dijadikan Ramadan sepanjang tahun.
Isyarat ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Surah Al-Anfal ayat 2, bahwa orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah imannya.
Ramadan adalah ruang di mana iman digetarkan, ditumbuhkan, dan ditenangkan sekaligus. Tujuan akhir seluruh rangkaian ibadah Ramadan adalah satu: takwa. “La‘allakum tattaqun,” agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.
Predikat muttaqin itulah terminasi perjalanan sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu.
Beliau mengajak jamaah menengok sejarah. Perintah puasa baru turun dua tahun setelah Nabi Muhammad ﷺ bermukim di Madinah. Umat-umat terdahulu pun mengenal ibadah menahan diri.
Pada umat Nabi Musa dikenal sebagai saum. Bahkan dalam kisah Maryam, ibunda Nabi Isa, beliau bernazar untuk ber-sa’um—menahan diri dari berbicara, sebagaimana diabadikan dalam Surah Maryam ayat 26. Saum bukan sekadar lapar dan dahaga, tetapi latihan pengendalian diri.
Bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, puasa adalah tameng—perisai dari keburukan. Ia membentuk jiwa yang kokoh dan terkendali.
Dari takwa itulah lahir insan muttaqin. Dan konsep ibadah dalam Islam, tegas beliau, tidak pernah mengenal ujung. Mau tidur ada doanya. Masuk kamar kecil ada doanya. Bepergian ada doanya. Islam adalah agama yang mengatur seluruh sisi kehidupan.
Dalam mencari kehidupan pun demikian. Allah berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 77: carilah dengan apa yang Allah karuniakan kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia.
Keseimbangan adalah kunci. Nikmati duniamu untuk mencapai akhiratmu, dan kejar akhiratmu tanpa menelantarkan duniamu.
Lima ayat pertama yang turun di Gua Hira mengajarkan manusia untuk membaca—iqra’. Membaca tanda-tanda Tuhan, membaca diri, membaca zaman. Ujungnya tetap sama: membentuk manusia bertakwa.
Beliau menutup dengan penguatan tawakal. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, sebagaimana ditegaskan dalam Surah At-Talaq ayat 2–3.
Di sisa akhir Ramadan tahun ini, ajakan beliau sederhana namun dalam: tingkatkan ibadah. Rapatkan saf. Rapatkan hati. Jangan biarkan semangat yang menyala di awal bulan meredup sebelum takbir kemenangan berkumandang.
Usai ceramah, jamaah kembali berdiri. Tarawih dan witir ditunaikan berjamaah. Malam makin larut, tetapi cahaya masjid tetap hangat.
Sebelum meninggalkan rumah Allah, para pengurus mengajak jamaah berfoto bersama—mengabadikan bukan sekadar kebersamaan, melainkan jejak ikhtiar menjadi muttaqin. Di antara saf yang mungkin merenggang, semoga hati justru semakin merapat kepada-Nya (sdn)