MASJIDALABRAR.COM – Malam merambat pelan di halaman Masjid Besar Al-Abrar. Lampu-lampu menyala temaram, menyambut jamaah yang datang dengan langkah ringan dan hati lapang.
Tarawih malam kedelapan pun dimulai, bukan hanya dengan rakaat-rakaat ibadah, tetapi juga dengan senyum yang pelan-pelan merekah di sudut bibir.
Adalah H. Arifuddin Lewa, akrab disapa Arle yang malam itu berdiri di mimbar.
Dengan gaya khasnya yang humoris, ceramah tarawih pun menjelma menjadi dakwah yang renyah, mengalir, dan menyentuh nalar serta rasa.
“Materi panitia malam ini tentang shalat dan qiyamullail,” ujar Arle membuka tausiyahnya. “Karena itu, selamat menunaikan tarawih ke-8, ke-9, atau ke-10—tergantung keyakinan masing-masing,” katanya, disambut senyum jamaah yang semakin merekah.
Ia lalu mengajak jamaah bernostalgia ke masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Dengan menirukan gaya sang presiden, Arle mengisahkan bagaimana dulu penetapan awal Ramadan dilakukan melalui musyawarah:
NU, Muhammadiyah, Persis, TNI, dan Polri dan ormas lainnya, dipanggil ke istana. Satu per satu ditanya. Ketika hasilnya berbeda, keputusan diambil demi persatuan.
“Sekarang,” katanya sambil tersenyum, “masing-masing menentukan sendiri. Ilmu sudah maju, tapi kok kebersamaan malah terasa menjauh?” Sebuah satire halus yang membuat jamaah tertawa, lalu terdiam sejenak.
Ia pun menyinggung fenomena penertiban pedagang kaki lima di trotoar. Dalam suasana Ramadan, katanya, empati seharusnya lebih dikedepankan.
“Di Jalan Sarappo sudah bersih, tapi kabarnya selama penertiban di kota ini, sudah ada sepuluh ketua RT meninggal, jadi hati-hati ki Pak RT.
Jangan-jangan doa orang-orang yang tersingkir,” ucapnya setengah bergurau, setengah serius, membuat jamaah tersenyum getir.
Di antara gelak ringan itu, Arle menyelipkan hikmah yang dalam. “Seribu kebaikan bisa tenggelam oleh satu kesalahan.
Tapi seribu dosa bisa dihapus oleh satu taubat yang sungguh-sungguh.” Kalimat itu meluncur tenang, namun menghunjam ke relung hati.
Saat menyinggung rumah tangga, terutama kepada ibu-ibu dan para gadis, Arle kembali memancing tawa. Gadis diibaratkan kue panada, kenyal, bongsor, menarik sementara usia senja dianalogikan jalangkote yang mulai keriput.
Jamaah tergelak, tapi pesan moralnya tetap terasa: syukuri setiap fase kehidupan.
Tausiyah kian dalam ketika Arle mengisahkan perjalanan tiga nabi. Nabi Adam, katanya, terlempar ke bumi karena persoalan istri, sebuah isyarat agar berhati-hati pada godaan, apalagi saat dompet diuji. Jamaah pun tertawa kecil, menyadari diri.
Kisah Nabi Ayyub disampaikan penuh empati. Dari kaya raya, memiliki 26 anak, lalu jatuh dalam kemiskinan dan sakit lepra, namun tetap teguh dalam keimanan. Sebuah potret kesabaran yang menggugah.
Dan puncaknya, kisah Nabi Yunus: gelapnya kegelapan di perut ikan, di dasar samudera, di keheningan yang tak bersuara. Dalam kondisi itulah doa menjadi satu-satunya cahaya. Dari sanalah keselamatan bermula.
“Dalam gelap sedalam apa pun,” tutup Arle, “doa adalah lentera harapan.”
Malam pun kian larut. Sebelum pamit, Arle menyampaikan rencana road show Ramadan ke Kendari, dan akan menutup perjalanannya sebagai khatib Idul Fitri di Kalimantan Timur (sdn)