Mozaik Ramadan | Catatan Malam Tarawih ke-21
Sedekah: Umpan Kebaikan di Laut Kehidupan
MASJIDALBAR.COM – Malam Ramadan di Masjid Besar Al-Abrar, Jalan Sultan Alauddin No. 82 Makassar, kembali menyelimuti jamaah dengan suasana yang khidmat. Lampu-lampu masjid memantulkan cahaya lembut di wajah para jamaah yang duduk bersila, menunggu rangkaian ibadah malam dilanjutkan. Seperti malam-malam sebelumnya, tarawih tidak sekadar menjadi ritual, tetapi juga ruang perenungan.
Sebelum tausiah dimulai, Ketua Panitia Amaliyah Ramadan, Suhardi Dg Rurung, menyampaikan laporan singkat. Ia mengumumkan bahwa mulai malam itu panitia bersama Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Masjid Al-Abrar telah membuka penerimaan zakat, infak, sedekah, serta berbagai sumbangan lainnya.
Pada saat yang sama, sejak malam ini pula hingga akhir Ramadan, jamaah dipersilakan mengikuti i’tikaf, dengan imam H. Abd. Haris Dg Lanti memimpin ibadah-ibadah malam.
Tak lama kemudian, penceramah malam itu, Prof. Dr. KH. Abustani Ilyas, MA, melangkah ke mimbar. Dengan nada tenang ia membuka tausiah, mengingatkan bahwa malam ini sudah memasuki malam ke-21 Ramadan menurut versi pemerintah dan Nahdlatul Ulama, sementara sebagian saudara dari Muhammadiyah telah berada pada malam ke-22. Perbedaan hitungan itu, katanya, tidak perlu dipersoalkan.
Yang lebih penting adalah bagaimana mengisi malam-malam akhir Ramadan dengan amal yang bermakna. Tema yang diangkat malam itu sederhana, tetapi sangat mendasar: zakat, infak, dan sedekah.
Dalam gaya tutur yang ringan, ia mengibaratkan sedekah seperti orang memancing di laut. “Semakin besar umpan yang kita lemparkan,” katanya, “semakin besar pula kemungkinan ikan besar menyambarnya.”
Begitulah kira-kira perumpamaan sedekah dalam kehidupan manusia. Kebaikan yang ditabur tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu waktu untuk kembali dalam bentuk yang mungkin tidak pernah kita duga.
Untuk memperjelas maknanya, ia bercerita tentang dua pengusaha kapal yang sama-sama mengangkut barang antar pulau. Suatu hari, ketika salah satu kapal dipenuhi karpet dagangan, datanglah seorang kakek tua meminta dua lembar karpet.
Sang pemilik kapal sempat ragu karena barang itu belum terjual. Namun akhirnya ia berkata, “Baiklah, satu saja untuk kakek.”
Permintaan sederhana itu dipenuhi, meski hanya sebagian. Perjalanan kapal pun dimulai. Di tengah laut, badai datang. Angin dan gelombang mengguncang kapal hingga lambungnya bocor.
Di tengah kepanikan awak kapal, muncul sosok kakek tadi. Ia merobek karpet yang diberikan kepadanya dan menambalkannya ke bagian kapal yang bocor. Secara ajaib kapal itu berhasil bertahan dan akhirnya selamat sampai tujuan.
Sementara kapal lain yang tidak melakukan apa pun justru tenggelam di lautan. Kisah itu bukan sekadar cerita, melainkan pesan moral yang dalam: sedekah adalah pagar yang menjaga rezeki.
Prof. Abustani kemudian mengajak jamaah merenung. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat keluarga yang hidupnya tampak tenteram. Anak-anaknya berhasil menempuh pendidikan tinggi, pekerjaan mereka baik, dan rumah tangga mereka terasa damai. “Pernahkah kita bertanya mengapa bisa begitu?” tanyanya pelan.
Menurutnya, sering kali jawabannya sederhana: orang tua mereka terbiasa bersedekah. Sedekah bukan sekadar memberi, tetapi juga membersihkan harta. Sebab dalam setiap rezeki yang kita peroleh, boleh jadi ada hak orang lain yang ikut terselip di dalamnya. Dengan sedekah, harta itu menjadi lebih berkah dan jiwa menjadi lebih lapang.
Ia juga mengingatkan sebuah prinsip yang sangat dikenal dalam ajaran Islam: tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Memberi bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bentuk kemuliaan manusia di hadapan Allah.
Namun kehidupan manusia tidak berhenti di dunia. Pada akhirnya setiap orang akan kembali kepada Sang Pencipta. Saat itu, kata beliau, manusia diantar ke pemakaman oleh tiga hal: keluarga, harta benda, dan amal kebajikan.
Dua di antaranya akan pulang kembali, keluarga dan harta. Hanya satu yang tetap tinggal menemani di alam kubur: amal kebaikan.
Karena itu, sedekah yang kita berikan hari ini sesungguhnya bukan hilang. Ia justru sedang menunggu kita di kehidupan berikutnya, menjadi sahabat di alam kubur, penerang dalam kesunyian, dan penguat di hari perhitungan.
Sebaliknya, bagi mereka yang menumpuk harta tetapi enggan berbagi, ada peringatan keras dalam tradisi keagamaan: harta itu kelak bisa berubah menjadi beban, bahkan digambarkan sebagai ular yang siap mematuk pemiliknya.
Di penghujung ceramahnya, Prof. Abustani mengajak jamaah memanfaatkan sisa Ramadan dengan memperbanyak sedekah. Sebab di bulan inilah pintu-pintu pahala terbuka lebar, dan kebaikan kecil pun dilipatgandakan nilainya.
Malam semakin larut di Masjid Al-Abrar. Jamaah meninggalkan saf tarawih dengan langkah pelan, membawa pulang satu pelajaran sederhana: di tengah hiruk-pikuk mencari rezeki, jangan lupa menebar kebaikan.
Sebab bisa jadi, sedekah kecil yang kita berikan hari ini adalah umpan kebaikan yang kelak menyelamatkan kita di lautan kehidupan (sdn)
