MASJIDALBAR.COM – Malam ke-27 Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Besar Al-Abrar Makassar berlangsung khusyuk dan tertib. Jamaah memenuhi ruang utama masjid yang terletak di Jalan Sultan Alauddin No. 82, menunaikan salat tarawih dalam suasana penuh harap, seakan setiap rakaat adalah langkah mendekat menuju akhir Ramadan yang semakin dekat.
Sebelum ceramah dimulai, Ketua Panitia Amaliah Ramadan, Suhardi Dg Rurung, S.Sos.I, menyampaikan laporan singkat sekaligus ucapan terima kasih kepada para jamaah yang telah berpartisipasi menyuguhkan hidangan berbuka puasa pada sore hari. Dalam kesempatan itu pula ia memaparkan laporan pertanggungjawaban keuangan kegiatan Ramadan.
Di akhir sambutannya, ia memperkenalkan penceramah malam itu, Prof.Dr. Misbahuddin, yang juga dijadwalkan menjadi khatib pada Salat Idul Fitri 1447 H di masjid tersebut. Setelah memberi salam dan melantunkan selawat kepada junjungan umat Islam, Muhammad, sang penceramah langsung mengawali tausiyah dengan mengutip sebuah hadis Nabi yang sangat populer tentang nikmat kehidupan.
Rasulullah bersabda bahwa ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh banyak manusia, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang. Dua karunia inilah, menurutnya, yang semestinya mendorong seorang muslim untuk menjadi pribadi yang lebih produktif, kreatif, dan penuh inovasi dalam menjalani hidup.
Ia kemudian menyinggung sebuah ungkapan Arab yang populer di kalangan pelajar: “Man jadda wajada”—siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya akan berhasil.
Namun dengan gaya santai yang mengundang senyum jamaah, ia menyebut bahwa di kalangan anak muda ungkapan itu kadang dipelesetkan menjadi kalimat jenaka yang berbunyi, “Man jadda… manna janda punna jodoh.”
Candaan ringan itu membuat hadirin tersenyum dalam diam, namun tetap menangkap pesan bahwa kesungguhan adalah kunci keberhasilan.
Sebagai ilustrasi, ia menyinggung fenomena kehidupan sehari-hari. Bila seseorang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif namun belum berhasil terpilih, maka yang perlu dilakukan bukanlah berputus asa, melainkan melakukan pembenahan diri. Barangkali ada strategi yang perlu diperbaiki atau pelayanan kepada masyarakat yang perlu ditingkatkan.
Dalam ceramahnya, Prof. Misbahuddin kemudian mengingatkan firman Allah bahwa barang siapa bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat kepadanya. Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus tercermin dalam sikap dan tindakan.
Ia menjelaskan bahwa bersyukur memiliki tiga bentuk utama: syukur dengan hati, syukur dengan lisan, dan yang paling utama adalah syukur dengan perbuatan.
Syukur dengan perbuatan, lanjutnya, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Seorang pengusaha yang memperoleh keuntungan, misalnya, tidak hanya menikmatinya secara pribadi, tetapi juga mengembangkan usahanya dengan sungguh-sungguh sehingga memberi manfaat yang lebih luas, serta dengan ikhlas menunaikan zakatnya.
Hal yang sama berlaku bagi aparatur sipil negara. Zakat penghasilan yang umumnya sebesar 2,5 persen dapat dikeluarkan dengan dua cara: langsung dipotong setiap menerima gaji, atau dikumpulkan terlebih dahulu selama setahun lalu dihitung totalnya.
Ia memberi contoh sederhana: seorang pegawai dengan gaji Rp7,5 juta per bulan dapat menghitung zakatnya dari total penghasilan selama satu tahun.
Untuk memperjelas gambaran, ia juga menuturkan ilustrasi tentang seorang pengusaha yang memiliki dua keluarga dengan berbagai tanggungan biaya, pendidikan anak, cicilan kendaraan, hingga kebutuhan rumah tangga.
Setelah semua pengeluaran dihitung, ternyata sisa tabungan yang ada belum mencapai batas nisab zakat. Menurutnya, situasi seperti ini kadang menjadi celah yang dimanfaatkan sebagian orang untuk menghindari kewajiban zakat, infak, dan sedekah.
Padahal, inti dari ajaran Islam bukanlah mencari alasan untuk tidak berbagi, melainkan mencari kesempatan untuk menebar kebaikan.
Ceramah malam itu pun ditutup dengan pesan singkat namun mendalam. Ramadan hampir berada di penghujungnya, dan setiap muslim hendaknya menjadikan sisa waktu yang ada untuk memperbanyak syukur dan amal. Prof. Misbahuddin, yang juga tercatat sebagai Ketua Pengurus Masjid Djamaluddin Muhammad Pao-Pao, menutup tausiyahnya dengan harapan agar semangat ibadah di malam-malam akhir Ramadan terus terjaga hingga fajar menyingsing.
“InsyaAllah,” ujarnya menutup ceramah, “sebagian dari pesan ini akan kita lanjutkan kembali pada ceramah Subuh nanti.”
Di luar masjid, malam Ramadan terus berdenyut tenang. Jamaah perlahan meninggalkan saf, membawa pulang satu pesan sederhana: jangan sampai dua nikmat terbesar—sehat dan waktu—justru menjadi nikmat yang paling sering kita sia-siakan (sdn)