MASJIDALBAR.COM – Fajar ke-26 Ramadan 1447 Hijriah menyingsing dengan suasana yang khidmat di Masjid Besar Al-Abrar Makassar. Barisan jamaah memenuhi ruang utama masjid, menunaikan salat Subuh dengan tenang, seolah menyambut cahaya pagi yang perlahan merayap di langit kota.
Seusai salat, mimbar subuh diisi oleh H. Syamsuddin Nur, seorang penceramah yang dikenal sederhana, namun sarat pengalaman dalam pengabdian sosial dan keagamaan.
H. Syamsuddin Nur bukanlah sosok yang asing bagi sebagian jamaah. Sebelum menekuni dakwah secara lebih mendalam, ia pernah aktif dalam organisasi kepemudaan Karang Taruna serta Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).
Pengalaman sosial itu kemudian membawanya terus memperdalam ilmu agama. Kini ia mengabdi sebagai aparatur sipil negara pada bidang kesejahteraan rakyat di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, sembari tetap meluangkan waktu untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan di tengah masyarakat.
Dalam tausiah subuhnya, Syamsuddin mengajak jamaah untuk memaksimalkan ibadah pada sisa hari-hari Ramadan yang kian menipis. Menurutnya, waktu yang tersisa hanyalah beberapa hari lagi.
“Ada yang masih memiliki lima hari, ada yang tinggal empat hari. Bahkan ada pula yang sebenarnya sudah tidak memiliki hari lagi,” ujarnya dengan nada reflektif.
Yang dimaksudnya bukan semata hitungan kalender Ramadan, melainkan kesempatan ibadah yang sering terlewatkan. Ia menyinggung sebagian orang yang tidak berpuasa, tidak pula mengikuti salat tarawih, bahkan tidak menghadiri salat Subuh berjamaah. Padahal, menurutnya, di situlah justru letak kemuliaan Ramadan yang seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Lebih jauh, Syamsuddin menegaskan bahwa ketakwaan adalah kunci ketenangan hidup. Orang yang bertakwa, katanya, tidak perlu terlalu gelisah menghadapi kehidupan, karena rezeki telah diatur oleh Allah.
Keyakinan itu membuat seorang mukmin tetap teguh menjalani hidup, bahkan ketika keadaan terasa sulit.
“Orang yang bertakwa percaya bahwa rezekinya akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” tutur Syamsuddin, sebelum menutup tausiah singkatnya.
Fajar pun kian terang di halaman Masjid Al-Abrar. Jamaah perlahan meninggalkan masjid dengan langkah yang lebih ringan, seolah membawa pulang pesan subuh itu bahwa di sisa Ramadan, setiap detik adalah kesempatan untuk mendekat kepada Tuhan (sdn)