MASJIDALABRAR.COM – Hujan turun deras sejak dini hari. Jalanan basah, udara dingin menyelinap ke sela-sela jaket dan jas hujan.
Namun langkah-langkah itu tak surut. Ada yang menembus hujan dengan payung sederhana, ada yang membungkus diri dalam jas hujan, sebagian berjalan kaki, sebagian lagi mengendarai motor perlahan.
Semua menuju satu arah: Masjid Besar Al-Abrar di Jalan Sultan Alauddin No. 82, Makassar. Selepas adzan subuh dikumandangkan dengan suara bening oleh H. Haruna, satu per satu jamaah memasuki masjid.
Wajah-wajah basah oleh air hujan, tapi hati mereka tampak kering dari keluh. Shalat subuh berjamaah pun ditunaikan dalam suasana khusyuk, dilanjutkan dengan tauziah yang disampaikan Prof. Dr. Muhammadong.
Dengan suara tenang dan tutur yang lembut, Muhammadong mengajak jamaah merenungi makna tobat. Ia mengibaratkan tobat seperti seseorang yang tersesat di padang pasir tandus, kehausan, gelisah, hampir putus asa.
Lalu tiba-tiba, segelas air datang menyelamatkan. Betapa bahagianya jiwa yang merasakan kelegaan itu. “Begitulah rasa tobat di hadapan Allah,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, dalam Al-Qur’an, kata tobat disebut sebanyak 80 kali, istigfar 75 kali, sementara kata dosa diungkapkan dalam tiga frasa berbeda.
Semua menegaskan satu pesan utama: Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat.
Namun, manusia seringkali lalai. Kesengajaan meninggalkan shalat, kemaksiatan yang dianggap sepele, perlahan menumpuk menjadi beban ruhani. Di titik inilah, pintu tobat selalu terbuka, selama nafas masih berembus.
Menutup ceramahnya, Muhammadong mengisahkan Ali bin Abi Thalib yang begitu khusyuk dalam shalatnya, hingga tak terganggu oleh rasa sakit.
Namun keberadaan salempang Nabi sempat menggoyahkan. Sebuah teladan tentang totalitas hati saat berdiri di hadapan Sang Khalik.
Di luar, hujan masih turun perlahan. Seolah ikut membersihkan debu dunia dari jiwa-jiwa yang baru saja disucikan oleh dzikir, doa, dan harapan akan ampunan-Nya (sdn)
