MASJIDALABRAR.COM – Subuh itu turun perlahan di Masjid IMMIM. Langit masih menyimpan sisa kelam malam, sementara jamaah berdatangan dengan langkah tenang, membawa doa-doa yang belum sempat terucap.
Udara pagi terasa segar, seolah alam ikut bersiap menyambut seruan keikhlasan.
Di mimbar sederhana, berdiri sosok yang tak asing: Ustaz Syaiful, lelaki sepuh yang telah mengabdikan hidupnya selama 51 tahun di IMMIM.
Rambutnya memutih, tertutupi dengan songkok hitam, namun sorot matanya tetap hidup. Dengan jas IPHI yang melekat di tubuhnya, beliau memulai tausiah subuh dengan suara lembut, penuh keteduhan.
Ia mengingatkan, bahwa pagi itu adalah subuh kelima Ramadan, bahkan bagi sebagian, telah memasuki subuh keenam.
“Tak perlu kita perdebatkan,” katanya tenang. “Keduanya memiliki landasan. Yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai setiap detik Ramadan yang berjalan.”
Lalu, sebuah pertanyaan sederhana meluncur, namun terasa menghujam:
“Apa persiapan Anda untuk bekal akhirat?”
Sejenak masjid terdiam.
Beliau mengajak jamaah merenung. Jika seseorang hendak bepergian ke luar negeri, betapa banyak yang dipersiapkan: uang, kesehatan, jadwal, dan dokumen.
Maka, bagaimana dengan perjalanan terpanjang manusia, perjalanan menuju hadirat Ilahi?
“Bekalnya adalah amal dan sedekah,” ujarnya perlahan.
“Setiap kali kita ke masjid, periksalah kantong kita. Jangan biarkan kotak amal menunggu tangan yang ragu.”
Kalimat itu sederhana, namun terasa menghentak kesadaran. Sebab di sanalah sering kali keikhlasan diuji: saat tangan diminta memberi, sementara hati masih ingin menahan.
Lebih jauh, Ustaz Syaiful menekankan tentang sedekah kepada orang tua. Menurutnya, perhatian kepada kedua orang tua bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan keberkahan hidup.
“Bagi yang orang tuanya masih ada, muliakan mereka. Dan bagi yang telah kehilangan, jangan pernah putuskan doa,” pesannya lirih.
Suasana kian khusyuk saat beliau mengisahkan sebuah cerita yang terdengar seperti dongeng, namun nyata dalam kehidupan.
Suatu subuh, seorang penceramah pulang dari pengajian. Di tengah perjalanan, ia dihadang empat perampok. Dengan nada mengancam, mereka berkata,
“Stop! Pasti Anda dapat amplop dari masjid!”
Tanpa berpikir panjang, sang ustaz menyerahkan amplop itu. Isinya: Rp500 ribu.
Para perampok membuka dan membaginya.
“Karena kami berempat, masing-masing dapat seratus ribu. Ini sisa seratus ribu untuk Anda beli bensin,” kata salah satu dari mereka.
Mereka pergi, meninggalkan sang ustaz dalam keheningan subuh.
“Bahkan perampok pun sempat bersedekah,” ujar Ustaz Syaiful, disambut senyum jamaah.
“Apalagi kita, yang datang ke masjid dengan niat ibadah.”
Masjid kembali hening. Namun keheningan itu terasa berbeda. Ada cahaya yang tertinggal. Cahaya kesadaran.
Subuh itu bukan hanya tentang bangun lebih awal. Ia menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan panjang, dan setiap langkah kecil kebaikan adalah bekal menuju kampung abadi.
Di luar, mentari mulai mengintip. Sementara di dalam hati jamaah, semoga cahaya itu terus menyala, hingga akhir perjalanan (sdn)