MASJIDALABRAR.COM – Pagi yang masih muda itu menghadirkan suasana yang teduh di Masjid Besar Al-Abrar Makassar, di Jalan St. Alauddin No. 82 Makassar.
Jamaah yang datang menunaikan salat Subuh berjamaah duduk bersaf-saf dengan khusyuk, menyambut tausiah yang disampaikan oleh Baharuddin yang pagi itu hadir dengan seragam kepolisian.
Dalam tausiah singkat namun penuh makna, Baharuddin mengingatkan bahwa waktu Subuh adalah salah satu waktu paling penuh berkah. Nabi, katanya, selalu mendoakan mereka yang bersegera melangkah ke masjid untuk menunaikan salat Subuh berjamaah.
Memang tidak semua orang dapat hadir, sebagian terhalang sakit, sebagian lagi sedang dalam perjalanan. Namun bagi mereka yang mampu melangkah ke masjid di waktu fajar, keberkahan itu seakan turun bersama cahaya pagi.
Ia juga mengutip sebuah pesan tentang keutamaan tetap berdiam di masjid setelah salat Subuh: membaca Al-Qur’an, berzikir, lalu menunggu hingga terbitnya matahari.
Dalam riwayat disebutkan bahwa amalan itu bernilai kesempurnaan, “tama… tama… sempurna,” ujarnya, menirukan ungkapan yang sering disebut dalam pengajian, yang membuat jamaah tersenyum sekaligus merenung.
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa pada waktu Subuh ada dua malaikat yang turut menyaksikan aktivitas manusia.
Malaikat pertama mendoakan mereka yang gemar bersedekah: “Ya Allah, gantilah apa yang ia keluarkan dengan yang lebih banyak.” Sedangkan malaikat kedua mendoakan kebinasaan bagi mereka yang kikir dan enggan berbagi.
Pesan ini disampaikan dengan nada yang lembut namun tegas, mengajak jamaah untuk membiasakan sedekah, sekecil apa pun, sejak pagi hari.
Menjelang akhir tausiah, Baharuddin yang juga dipercaya sebagai Ketua Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di lingkungan tempat tinggalnya, mengajak jamaah untuk memperkuat kepedulian sosial melalui sedekah dan zakat.
Baginya, keberkahan Subuh bukan hanya pada ibadah pribadi, tetapi juga pada kepekaan terhadap sesama.
Tak lama setelah itu, ia pun berpamitan. Tugas negara sudah menunggu. Namun sebelum meninggalkan masjid, ia sempat berfoto bersama para pengurus Masjid Besar Al-Abrar Makassar.
Pagi kembali bergerak menuju aktivitasnya, sementara pesan Subuh itu masih tertinggal di hati jamaah.
Pada akhirnya, Subuh bukan sekadar pergantian waktu dari gelap menuju terang. Ia adalah panggilan bagi hati untuk bangkit lebih awal, membersihkan niat, dan menebar kebaikan sejak langkah pertama hari itu dimulai.
Dari saf-saf yang hening di masjid, lahir pesan sederhana namun mendalam: siapa yang memulai pagi dengan ibadah dan kepedulian, maka sepanjang hari ia sedang menanam benih keberkahan dalam hidupnya (sdn)