MASJIDALABRAR.COM – Malam itu, Masjid Besar Al-Abrar di Jalan Sultan Alauddin No. 82 Makassar kembali menyala oleh cahaya iman.
Jamaah berdatangan perlahan, menyusuri pelataran masjid, membawa harap, doa, dan rindu yang tak terucap. Tarawih kedua Ramadan 1447 H pun dimulai, menghadirkan suasana khusyuk yang menenangkan jiwa.
Di mimbar, berdiri Ustaz Lahamuddin K., S.Ag. Daeng Gassing , menyapa jamaah dengan senyum sederhana dan tutur kata yang meneduhkan.
Acara dipandu oleh Ketua Panitia Amaliah Ramadan, Suhardi Dg. Rurung, S.Sos.I, yang dengan hangat mengajak jamaah menyelami makna Ramadan lebih dalam.
Dalam tauziahnya, Ustaz Lahamuddin mengurai hakikat puasa sebagai jalan sunyi menuju takwa. Ia menuturkan, usia umat Nabi Muhammad umumnya berada di rentang 60 hingga 70 tahun.
Sebuah usia yang singkat, jika dibandingkan dengan hakikat waktu di akhirat, di mana satu hari setara dengan seribu tahun kehidupan dunia. Maka, setiap detik di dunia menjadi sangat berharga.
“Takwa,” tuturnya lembut, “ditempuh melalui tiga jalan: ikhlas, jujur, dan sabar.”
Menurut kajian linguistik dari empat mazhab, puasa bermakna menahan: menahan lapar dan dahaga, menahan hawa nafsu, serta menahan diri dari segala yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Sebab itu, puasa bukan sekadar ritual fisik, melainkan latihan panjang bagi jiwa untuk mengenal sabar.
Untuk menggugah kesadaran jamaah, Ustaz Lahamuddin berkisah tentang perjalanan hidupnya sendiri. Sebagai imam masjid dengan penghasilan sekitar dua juta rupiah per bulan, ia harus menghidupi delapan orang anak.
Secara logika, angka itu tampak mustahil mencukupi. Namun, keberkahan Allah mengubah keterbatasan menjadi kecukupan.
Anak-anaknya tumbuh menjadi sarjana, bahkan ada yang menghafal Al-Qur’an dan kini melanjutkan studi magister di Universitas Hasanuddin.
Menjelang akhir ceramah, beliau mengajak jamaah untuk tidak berjalan sendiri menuju kebaikan. “Ajaklah tetangga, sahabat, dan keluarga untuk meramaikan Masjid Al-Abrar.
Jadikan masjid ini rumah bersama, tempat kita menanam amal,” pesannya penuh harap.
Usai tausiah, lantunan takbir mengalun lembut. Shalat tarawih dan witir berjamaah pun dilaksanakan dengan imam Ustaz Arjun, SQ,S.Pd.I mengalirkan ketenangan yang menutup malam dengan rasa syukur.
Sementara itu, Ketua Panitia Amaliah Ramadan, Suhardi Dg. Rurung, menyampaikan permohonan maaf kepada jamaah atas gangguan jaringan wifi masjid yang masih dalam perbaikan oleh pihak Indihome.
Sebuah kendala kecil yang tak mengurangi kehangatan suasana, karena malam itu, yang paling kuat tersambung adalah hati-hati yang bersua dalam dzikir dan doa.
Dan di bawah langit Makassar yang temaram, Masjid Besar Al-Abrar kembali menjadi saksi: bahwa Ramadan selalu menemukan caranya sendiri untuk menghidupkan jiwa-jiwa yang rindu pada cahaya (sdn)