MASJIDALABRAR.COM – Hujan turun sejak ba’da sahur. Rintiknya mula-mula pelan, lalu menjelma deras, seolah langit ingin ikut berwudu sebelum fajar menyingsing.
Jalan Sultan Alauddin No. 82 Makassar tampak lebih lengang dari biasanya. Genangan air membendung langkah, membuat sebagian jamaah tertahan di rumah, menunggu reda. Namun subuh tetap datang, tepat waktu, mengetuk kesadaran.
Di Masjid Besar Al-Abrar, subuh pertama Ramadan 1447 H terasa lebih syahdu. Dalam lantunan hujan, jamaah yang hadir duduk rapat, menyatukan niat dan harap.
Dari mimbar, Prof. Dr. Lomba A. Sultan menyampaikan tausiah yang meneduhkan.
Ia membahas perbedaan penetapan awal puasa antara Muhammadiyah dan Pemerintah/NU, sebuah topik yang kerap memantik diskusi, bahkan perdebatan.
Namun pagi itu, narasi disederhanakan dalam bahasa persatuan.
“Keduanya memiliki landasan yang kuat. Tugas kita bukan mempermasalahkan perbedaan, melainkan bagaimana menunaikan ibadah puasa Ramadan dengan sebaik-baiknya dan sesempurna mungkin,” ujarnya lembut.
Kata-kata itu jatuh seperti hujan: menenangkan, meresap ke dalam dada. Perbedaan bukan jurang, melainkan jalan menuju saling memahami.
Malam sebelumnya, tarawih pertama juga berlangsung di bawah hujan. Namun suasana masjid tetap hangat. Ketua Masjid Besar Al-Abrar, H. Hilal Kadir, SE Daeng Lau, menyampaikan progres pembenahan rumah ibadah ini.
Salah satu yang menjadi perhatian ialah perbaikan menara masjid yang sempat mengalami kebocoran.
“Alhamdulillah, kini sudah tertutupi dengan baik. Air hujan tidak lagi menetes ke lantai dua dan mengganggu jamaah,” tuturnya penuh syukur.
Tak hanya itu, karpet panjang berwarna merah telah ditambahkan, menghadirkan kenyamanan baru. Lantai masjid terasa lebih lapang, jamaah pun semakin khusyuk dalam sujud dan doa.
Dari sisi tata kelola, transparansi keuangan terus dijaga. Laporan terpampang rapi di papan bicara masjid, membuka ruang kepercayaan antara pengurus dan jamaah.
Sebuah panitia amaliyah Ramadan pun dibentuk, diketuai Suhardi Dg Rurung. Ia mengabarkan rencana sebuah perusahaan swasta yang akan menggelar buka puasa bersama warga di Masjid Al-Abrar, sebuah ikhtiar kecil menumbuhkan kebersamaan di bulan penuh berkah.
Disisi lain, tehnisi Sariun Said,ST bersama asistennya Abd. Hakim Al-Limbung, melakukan pembenahan soundsistem dan LCD serta aspek kelistrikan masjid, hingga dapat berfungsi dengan baik.
Usai tausiah, Prof. Lomba Sultan berpose bersama pengurus masjid dan Prof.Syamsuddin. AB. Senyum merekah di wajah-wajah lelah namun bahagia.
Hujan masih turun, tetapi di dalam masjid, kehangatan spiritual telah menyalakan cahaya. Ramadan pun dimulai: bukan dengan gaduh perbedaan, melainkan dengan keteduhan persatuan.
Di bawah hujan subuh itu, Al-Abrar kembali menjadi rumah, tempat jiwa pulang, dan doa-doa disatukan (sdn)