MASJIDALABRAR.COM – Malam Ramadan terus berjalan menuju ujungnya. Di Masjid Besar Al-Abrar, tarawih malam ke-16 berlangsung khidmat. Jamaah memadati saf, sementara hujan yang sempat turun sebelumnya justru menambah kesejukan malam.
Acara diawali dengan pengumuman panitia yang disampaikan oleh protokol, Syukur Nawing, yang memperkenalkan penceramah malam itu: Prof. H. Marjuni.
Begitu berdiri di mimbar, Prof. Marjuni langsung menyentuh inti persoalan. Tema yang diangkat panitia adalah “Bagaimana mengisi sepuluh malam terakhir Ramadan.”
Menurutnya, menjelang berakhirnya Ramadan, umat Islam dianjurkan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an sekaligus menghidupkan beberapa amalan utama.
Ia menyebut sedikitnya lima amalan penting yang patut dihidupkan pada sepuluh malam terakhir:
I’tikaf di masjid
Mengkhatamkan Al-Qur’an
Memperbanyak dzikir
Shalat malam (qiyamul lail)
Bersedekah di jalan Allah
“Al-Qur’an adalah mukjizat yang menerangkan masa lalu, masa kini, dan masa depan manusia,” ujar beliau. Bahkan membaca satu huruf saja bernilai sepuluh kebaikan. Apalagi jika dibaca dengan baik, dipahami, dan diamalkan, Allah akan membukakan jalan keluar bagi setiap persoalan hidup.
Dalam ceramahnya, Prof. Marjuni juga berbagi pengalaman setelah melakukan perjalanan ke berbagai negara. Ia menyimpulkan sesuatu yang menarik: jika ingin melihat orang beriman, lihatlah Indonesia; tetapi jika ingin melihat nilai-nilai Islam dijalankan, lihatlah beberapa negara lain.
Ia memberi contoh:
Di Swiss, masyarakatnya sangat disiplin menjaga kebersihan.
Di Selandia Baru, kejujuran menjadi budaya sehari-hari.
Di Jepang, masyarakat terbiasa antre dengan tertib, meski mayoritas beragama Shinto.
Beliau bahkan mengisahkan pengalaman Yusuf Kalla yang pernah tertinggal dompet di sebuah taksi di Jepang. Sopir taksi tersebut justru mengantarkan kembali dompet itu ke hotel tempat beliau menginap.
Contoh lain datang dari Selandia Baru. Seorang ibu rumah tangga biasa meninggalkan kue dagangannya di depan rumah saat berangkat kerja. Sore harinya, ia kembali mengambil sisa kue dan uang hasil penjualan, semuanya tetap ada.
Bandingkan dengan pengalaman di Indonesia saat pernah dibuat kantin kejujuran. Pada awalnya berjalan baik, namun lama-kelamaan kuenya habis sementara uangnya tidak ada.
“Di sana orang mungkin tidak membaca Al-Qur’an, tetapi nilai-nilainya mereka jalankan,” kata Prof. Marjuni, mengingatkan jamaah agar tidak sekadar membaca, tetapi juga mengamalkan.
Menjelang akhir ceramah, suasana menjadi lebih cair ketika beliau menyampaikan ilustrasi tentang “peminum kopi.”
Menurutnya, pengunjung warkop juga bisa dibedakan waktunya.
Pagi hari biasanya jamaah masjid atau pegawai kantor.
Menjelang siang datang para pengusaha atau wirausaha.
Namun ada juga yang dari pagi hingga siang masih duduk di warkop. “Ini biasanya kelompok Camidu — Catat Mi Dulu,” ujarnya disambut tawa jamaah.
Ia pun menutup ceramah dengan gurauan ringan untuk para ibu. Jika membuatkan kopi untuk suami, putarlah sendok tujuh kali seperti tawaf sambil membaca shalawat.
“Insya Allah suami selalu ingat racikan istrinya,” katanya berseloroh. Meski kini, tambahnya, warkop sudah terlalu banyak dan ibu-ibu mungkin sudah jarang lagi membuat kopi di rumah.
Ceramah berakhir dengan senyum jamaah yang masih tersisa. Malam pun dilanjutkan dengan shalat tarawih, dipimpin oleh imam Hendra Sumirang.
Ramadan terus berjalan menuju penghujungnya. Pesan malam itu sederhana namun dalam: jangan hanya membaca Al-Qur’an, tetapi hidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari (sdn)