MASJIDALABRAR.COM – Hujan lebat mengguyur Kota Makassar sejak dini hari. Angin kencang menyisir jalanan, seakan menguji langkah siapa saja yang ingin berangkat ke rumah Allah.
Namun subuh itu, selepas hujan sedikit reda, satu per satu jamaah tetap berdatangan. Payung terlipat, sarung masih basah di ujungnya, tetapi tekad tak ikut luruh.
Di bawah kepemimpinan Imam Lahamuddin Dg Gassing, saf-saf kembali rapat. Suara takbir menggema, menembus sisa gerimis yang menggantung di langit kota.
Usai salat, mimbar diisi oleh AKP Syahuddin Rahman, S.H., S.Sos. Dengan bahasa yang tenang namun menggetarkan, ia mengawali tauziyahnya dengan pertanyaan sederhana:
Siapa di antara kita yang tak ingin bahagia? Bukankah dalam doa yang kita panjatkan saban waktu, kita memohon kebaikan di dunia dan di akhirat?
Namun, kata beliau, bahagia bukan sekadar harta atau jabatan. Bahagia punya kunci. Dan kunci itu bermula dari “rumah” yang harus kita bangun dengan sungguh-sungguh“Miliki rumah yang bagus,” ujarnya. Jamaah terdiam, sebagian mungkin membayangkan dinding tinggi dan ruang tamu megah. Tetapi ia segera meluruskan, rumah mewah yang dimaksud bukanlah bangunan dari batu dan semen, melainkan hati.
Hati itulah ruang tamu sejati. Di sanalah iman bertamu, di sanalah sabar dan syukur bersemayam. Kursi mewahnya adalah akhlak, lampunya adalah zikir, dan pagarnya adalah takwa.Namun rumah hati saja tak cukup. Setelah memilih rumah yang lapang dan empang yang luas, jangan lupa mengalirkan infak dan sedekah.
Sebab harta yang tak dibagi hanya akan mempersempit ruang jiwa. Sedekah adalah jendela yang membuat hati tetap bercahaya.Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan lingkungan.
Kebahagiaan tak mungkin tumbuh di tengah kegaduhan dan keresahan. Di kota Makassar belakangan ini, muncul fenomena “temba-temba” yang meresahkan.
Anak-anak terlibat dalam aksi berbahaya yang telah memakan korban. Di sinilah peran orang tua diuji. Bukan hanya mencukupi kebutuhan lahir, tetapi juga mengawal arah batin anak-anak.
Memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Mengajarkan bahwa keberanian bukanlah pada aksi yang melukai, tetapi pada kemampuan menahan diri.
Sebagai Wakapolsek di Kecamatan Wajo, beliau berbicara bukan hanya sebagai aparat, tetapi sebagai ayah, sebagai warga, sebagai bagian dari masyarakat yang merindukan kota yang damai.
Subuh itu, hujan mungkin membasahi jalanan. Tetapi di dalam masjid, hati-hati yang hadir justru terasa hangat. Sebab kebahagiaan ternyata bukan tentang cuaca yang cerah, melainkan tentang hati yang bersih dan lingkungan yang tenteram.
Dan di tengah gerimis yang tersisa, jamaah pun pulang dengan satu pesan: bangunlah rumah hati yang megah, agar dunia terasa teduh dan akhirat menjadi indah (sdn)