MASJIDALABRAR.COM – Memasuki masa purnabakti, seseorang akan menghadapi perubahan besar dalam ritme kehidupan. Pada masa aktif dahulu, pagi hari dimulai dengan semangat: bangun, menyiapkan perlengkapan kerja, sarapan, lalu berangkat ke kantor dengan perasaan gembira dan penuh tujuan.
Namun setelah pensiun, aktivitas rutin itu terhenti. Ada yang tetap menyibukkan diri dengan aktif di organisasi, mengikuti kegiatan kampus dan berinteraksi dengan anak-anak muda, atau terlibat dalam kegiatan sosial. Tetapi tidak sedikit pula yang memilih—atau terpaksa—lebih banyak tinggal di rumah.
Kelompok terakhir inilah yang paling rawan mengalami gangguan kesehatan. Terlebih bila setelah salat Subuh tidak ada aktivitas lanjutan, lalu kembali tidur hingga pagi dengan alasan “tak perlu lagi ke kantor.”
Kondisi ini, apalagi bila dibumbui suasana rumah yang kurang harmonis—misalnya sering dimarahi istri—dapat mempercepat penurunan semangat hidup.
Bagi yang tinggal bersama cucu, situasinya masih relatif lebih baik. Ada teman bercengkerama, ada tawa kecil yang menghibur.
Namun ada pula yang justru semakin larut dalam kesendirian, menjadikan telepon genggam sebagai sahabat setia: sejak bangun tidur hingga kembali terlelap, HP tak pernah lepas dari genggaman.
Ada pula kisah unik dari mereka yang tergabung dalam “Grup ISTI” (Ikatan Suami Takut Istri). Demi tetap bisa beraktivitas, terkadang harus “berbohong kecil”—yang meski diakui berdosa, dilakukan semata-mata agar tetap bisa keluar rumah dan berkegiatan.
Mereka yang pensiun dan sepenuhnya terkurung di rumah inilah yang paling cepat tampak menua dan rentan sakit, padahal usia masih berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Tantangan akan semakin berat bagi mereka yang ditinggal wafat pasangan hidup.
Rasa sepi, kesedihan yang datang tiba-tiba, atau beban merawat pasangan yang sakit menuntut ketegaran jiwa yang luar biasa, selain itu, Bagi Bapak/Ibu Purnabakti terkadang merasa dirinya diacuhkan oleh anak-anaknya dan dianggap sebagai beban hidup, sementara gaji pensiunnya tak mencukupi untuk kebutuhan hidup sebulan lamanya.
Peresaan tersingkir dan tak dibutuhkan lagi telah memperparah kehidupannya, sebelum kondisi seperti itu benar-benar terjadi, kami mengajak Anda berorganisasi,
Salah satu solusinya adalah tetap aktif dan bersosialisasi, misalnya dengan bergabung dalam Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan.
Di sana ada kebersamaan, humor, dan candaria. Bahkan, sering kali ditutup dengan puisi-puisi sederhana yang mampu menghibur hati.
Aktif bergerak, aktif berpikir, dan aktif bersosialisasi, itulah kunci agar masa purnabakti tetap sehat, bermakna, dan bahagia (sdn)
