MASJIDALABRAR.COM – Memasuki malam ke-20 Ramadan 1445H di Masjid Besar Al-Abrar, jalan St. Alauddin No 82 Makassar, sesuai jadwal yang dikeluarkan pihak IMMIM Makassar, penceramah yang dijadwalkan adalah DR H Ahmad Chaerun Ulum, MA.
Namun, saat waktu yang ditentukan tiba, setelah sholat Isya dan pengumuman dibacakan oleh sekretaris panitia Amaliah Ramadan 1445 H, Suhardi Dg Rurung, S.Sos, terungkap bahwa penceramah belum hadir.
Dalam situasi tersebut, jamaah dihadapkan pada dua pilihan. Beberapa dari mereka dari sektor kiri mengusulkan untuk langsung melanjutkan dengan sholat tarwih, sementara yang lain, terutama Bapak Nurdin Dg Siajang, mengusulkan agar posisi penceramah digantikan oleh sekretaris masjid.
Untuk menjaga ketenangan jamaah, sebagai sekretaris masjid, saya bangkit dan naik ke mimbar untuk menyampaikan materi ceramah. Materi yang saya pilih adalah topik yang saya kuasai dan sering saya sampaikan di hadapan mahasiswa.
Setelah memberikan prolog dan pembukaan, saya menetapkan judul ceramah malam itu sebagai “Kesiapsiagaan Dalam Penanggulangan Bencana”.
Dalam uraian yang singkat dan padat karena dibatasi waktu, dikatakan hendaknya senantiasa siap siaga dalam kehidupan bermasyarakat, penting untuk memahami tiga jenis bencana, yaitu bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial.
Salah satu aspek dari bencana sosial yang saya soroti adalah “Perkelahian Antar Kelompok”, yang menjadi relevan dalam konteks kenaikan harga beras di pasaran. Saya menekankan perlunya mengantisipasi situasi tersebut, terutama di sekitar area masjid, untuk mencegah terjadinya konflik.
Dengan demikian, saya menyimpulkan bahwa tindakan antisipasi diperlukan untuk mencegah perkelahian antar kelompok di sekitar Masjid Besar Al-Abrar.
Oleh karena itu, pengurus masjid telah mengambil langkah dengan menghadirkan petugas dari Babinsa dan Binmas Kelurahan Pa’Baeng-Baeng, sebagai bagian dari sinergi untuk menjaga ketenangan selama pelaksanaan sholat tarwih berjamaah (*)
