MASJIDALABRAR.COM – Malam ke-24 Ramadan 1447 Hijriah diwarnai suasana yang khidmat di masjid. Sejak menjelang waktu Isya, hujan deras sempat mengguyur kawasan sekitar, namun seakan memberi ruang bagi jamaah untuk beribadah, hujan itu perlahan berhenti ketika waktu salat tiba.
Jamaah pun berdatangan dengan langkah yang mantap, memenuhi saf-saf masjid untuk menunaikan salat Isya dan Tarawih.
Sebelum rangkaian ibadah dimulai, panitia masjid yang dipandu oleh Muhammad Ilham Dg Naba, S.Pd.I menyampaikan laporan keuangan masjid sekaligus mengumumkan bahwa pada malam itu akan dilaksanakan iktikaf.
Panitia juga menyiapkan santapan sahur bagi para jamaah yang ingin bermalam di masjid dalam suasana ibadah yang lebih khusyuk.
Dalam kesempatan itu, Ilham memperkenalkan penceramah malam ke-24 Ramadan, yaitu Prof. Dr. H. Muslimin H. Kara, MA. Saat naik ke mimbar, beliau mengangkat tema yang terasa sangat dekat dengan kehidupan keluarga, yakni “Mendidik Anak.”
Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab utama kedua orang tua. Ramadan, menurutnya, tidak hanya menghadirkan momentum untuk memperbanyak ibadah mahdhah, tetapi juga menjadi ruang pendidikan yang luas, termasuk dalam membina generasi penerus.
Ia menjelaskan bahwa fondasi pertama dalam pendidikan anak adalah memperkokoh tauhid dan menanamkan cinta kepada Allah SWT. Orang tua memiliki kewajiban mengenalkan kalimat tauhid “La ilaha illallah” kepada anak-anak, bukan sekadar sebagai ucapan, tetapi sebagai keyakinan yang hidup dalam hati.
Anak perlu diajak memahami bahwa tiada Tuhan selain Allah, penguasa langit, bumi, dan seluruh isi alam semesta. Dengan fondasi tauhid yang kuat, anak akan memiliki sandaran spiritual yang kokoh dalam menghadapi kehidupan.
Menurut Prof. Muslimin, tantangan zaman saat ini menunjukkan bahwa mental sebagian anak menjadi rapuh dan mudah putus asa. Karena itu, orang tua harus membentengi jiwa anak sejak dini, menanamkan keyakinan bahwa tempat bersandar dari segala keluh kesah dan tempat memohon pertolongan hanyalah kepada Allah SWT. Keyakinan ini akan menjadi kekuatan batin yang menuntun mereka dalam perjalanan hidup.
Lebih jauh ia menyampaikan bahwa Ramadan sejatinya adalah bulan pendidikan. Momentum ini dapat dimanfaatkan orang tua untuk melibatkan anak dalam berbagai aktivitas ibadah.
Misalnya dengan mengajak mereka mengantar zakat fitrah ke masjid, membiasakan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar, serta menanamkan pemahaman tentang makna ibadah yang dilakukan.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah pembentukan karakter. Ramadan mengajarkan kesabaran dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu, nilai-nilai yang perlu diperkenalkan kepada anak sejak dini.
Anak juga perlu dilatih untuk memiliki kepedulian sosial, seperti membagi takjil, berinfak, bersedekah, serta menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama. Nilai ini penting ditanamkan agar anak memahami bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.
Prof. Muslimin juga mengingatkan bahwa anak merupakan investasi masa depan bagi orang tua. Bahkan jika seseorang tidak memiliki anak secara biologis, masih terbuka peluang memiliki “anak ideologis”, yakni generasi muda yang dibimbing menuju kesalehan.
Mereka kelak menjadi generasi yang tidak hanya meneruskan nilai-nilai kebaikan, tetapi juga menjadi anak-anak saleh dan salehah yang akan mendoakan orang tua ketika mereka telah berada di alam kubur.
Menutup ceramahnya, ia kembali menegaskan pentingnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak sebagai kader penerus generasi. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membangun masa depan umat dimulai dari rumah, dari keluarga, dan dari cara orang tua membimbing anak-anaknya.
Usai ceramah, Ketua Panitia Suhardi Dg Rurung, S.Sos.I kembali mengajak jamaah untuk mengikuti salat malam dan iktikaf yang telah disiapkan oleh panitia, lengkap dengan santapan sahur bagi para peserta.
Rangkaian ibadah kemudian dilanjutkan dengan salat Tarawih berjamaah yang dipimpin oleh Imam H. Abd. Haris Dg Lanti, S.Pd.I.
Setelah seluruh rangkaian selesai, jamaah kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang lapang dan bahagia, membawa pulang pesan Ramadan tentang amanah besar: mendidik generasi yang beriman dan berakhlak mulia (sdn)