MASJIDALABRAR.COM – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, Ahmad Dimyathi Badruzzaman, dalam pidatonya mengungkapkan makna hakiki dari syukur sebagai kemampuan seorang hamba Allah untuk menggunakan segala nikmat yang diberikan-Nya untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Syukur bukan sekadar ungkapan “Alhamdulillah“, melainkan juga implementasi nyata dalam tindakan, seperti menjalankan shalat lima waktu. Hal ini tercermin dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7, di mana Allah berfirman, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat-Nya.”
Namun, sering kali syukur hanya terbatas pada ungkapan lisan tanpa disertai dengan pengakuan dalam hati bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Lalu, ada juga aspek syukur yang harus tercermin dalam perbuatan dan tindakan nyata kita, seperti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya, khususnya melalui shalat.
Al-Qusyairi menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah dengan penuh ketundukan. Ini tercermin dalam kehidupan Rasulullah saw, yang menjadikan shalat malam sebagai bukti ketundukan dan syukur kepada Allah. Rasulullah Saw. menghabiskan malam dengan menangis dalam shalat, menunjukkan rasa syukur yang mendalam.
Selain itu, dikutip dari kisah tentang Anne Marie Schimmel, seorang ahli dalam literature Islam dan tasawuf, menegaskan bahwa kehidupan beragama tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang hidayah. Meskipun memiliki pengetahuan yang luas, ia tidak mendapatkan hidayah untuk masuk Islam.
Dari kisah ini, kita dapat merenungkan betapa berharganya nikmat iman dan Islam yang kita terima tanpa usaha, sebagai anugerah dari Allah. Kita diingatkan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat ini dengan menjalankan kewajiban kita sebagai hamba Allah.
Kisah nyata ini, di tuturkan Habib Quraisy bin Qosim Baharun, Cirebon, dari kisah perjalanannya tahun 1996. Kala itu pesawat melintasi daratan Afrika. Diantara penumpangnya Habib Quraisy dan seorang ibu tua sekitar 65-70 tahun berpenutup jilbab di sebelahnya.
“Dimana asal Anda?” Tanyanya. Tahu Habib Quraisy orang Indonesia, dia mengajaknya berbahasa Indonesia dan amat fasih pula. Ibu tua itu tersenyum bijak sambil berkata !
“Saya ‘Alhamdulillah’ menguasai sebelas bahasa dan 20 bahasa daerah”. Ibu Tua mulai mengupas pembahasan Al Qur’an dengan indah dan mahir.
Habib pun penasaran atas kehebatannya menjelaskan Al-Qur’an, “Apakah Ibunda hafal Al-Qur’an ?” Beliau jawab “Ya, saya telah menghafal Al Qur’an dan saya rasa tidak cukup hanya menghafal Al-Quran, sehingga saya berusaha menghapal Tafsir Jalalain dan saya pun hafal”.
Tidak sampai disitu saja, Ibu Tua itu melanjutkan bicaranya “Namun Al-Qur’an harus bergandengan dengan hadist. Sehingga saya kemudian berupaya lagi menghafal hadist tentang hukum, sehingga saya hafal kitab hadist Bulughul Maram di luar kepala”.
“Lantas saya masih belum merasa cukup, karena di dalam Islam bukan hanya ada halal dan haram, tapi harus ada Fadhailul amal, maka saya pilih kitab Riyadhus Sholihin untuk saya hafal dan saya hafal”. Kata Ibu itu menuturkan pendalamannya tentang Islam kepada Habib Quraisy.
Ibu itu kembali bertutur “Di sisi agama ada namanya Tasawuf, maka saya cenderung pada tasawuf sehingga saya pilih kitab Ihya Ulumuddin dan sampai saat ini saya sudah 50 kali mengkhatamkan membacanya.
Saking seringnya saya baca Ihya-Ulumuddin sampai-sampai Bab Ajaibul Qulub saya hafal di luar kepala”. Habib Quraisy terperangah melihat kehebatan dan luar biasanya Ibu itu.
Namun karena tidak percaya begitu saja, Habib pun akhirnya mencoba test kebenaran perkataannya. Apakah benar Ia telah hafal Al-Qur’an? Apakah benar Ia menguasai Tafsir Jalalain ttg asbabun-nuzul dan qaul Ibnu Abbas?
Setelah melalui beberapa pertanyaan. Ternyata benar Ibu itu hafal Qur’an bahkan mampu menjawab tafsirnya dengan mahir dan piawai.
Ketika Habib mengangkat permasalahan ihya mawat yang ada dalam kitab Bulughul Maram, Ibu Tua itu pun menjabarkannya cukup jelas. Ketika Habib membahas tentang hadist Riyadhus Sholihin maka Ibu Tua itu menyebutkan sesuai apa yang disebutkan dalam kitab Dalailul Falihin sebagai syarah kitab hadist tsb.
Dan lagi Ia menjelaskan masalah psikologi hati berbasis kitab Ihya Ulumuddin pada pasal ajaibul qulub. Kembali Habib dibuat heran akan kehebatan Ibu Tua itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pesawat akan mendarat di Airport. Ibu itu mengambil tasnya yang ada di kabin. Karena sudah merasa kenal, Habib membantu menurunkan 3 tasnya ke lantai pesawat. SubhaanAllah… Saat Ibu itu menunduk untuk mengambil tasnya ternyata keluar dari balik jilbabnya seutas kalung salib.
Seperti petir menyambar di siang bolong, Habib Quraisy menunduk lemah. Ibu itu tersenyum, “Akan kujelaskan padamu nanti di hotel.”
Habib akan transit selama sehari semalam, pun Ibu Tua itu. Maka di ruang tunggu dia tunjukkan nomor kamarnya kepada Habib dan berjanji bertemu di ruang lobbi restaurant.
Keduanya akhirnya bertemu. Kepada Habib Qurasy ia mengatakan :
“Saya bukan orang Kristen, mengapa saya keluar dari Kristen ?… karena saya menganggap Kristen itu hanya dongeng belaka. Dan kalung ini bukan berarti saya Kristen, tapi kalung ini pemberian almarhumah ibu saya”.
Ia mengatakan bahwa Ia telah mempelajari Kristen, Hindu juga Islam. Ia mengungkap ketertarikannya mengenai keagungan yang ada di balik wahyu Allah Swt dan hadits Nabi Muhammad Saw.
“Ibu apa agamanya sekarang ?” Habib bertanya.
Dia katakan “Saya tidak beragama”
“Andai Ibu masuk Islam, begitu baca syahadat, Ibu akan langsung dapat titel ulama”. Karena demikian luas ilmu yang dimiliki, kata Habib.
Ia menjawab, “Mungkin karena saya belum mendapat hidayah dari Allah”
Habib Quraisy meneteskan airmata, bersyukur kepada Allah SWT, bagaimana orang seperti dia yang sudah hafal Al Qur’an dan lain sebagainya belum Allah izinkan untuk beriman kepada-NYA.
Sementara kita tanpa usaha apapun, telah dipilih oleh Allah SWT untuk jadi seorang muslim.
Demikianlah kisah ajaib ini. Semoga dapat diambil iktibar betapa bersyukur kita dianugrahi IMAN & ISLAM… dan semakin bertambah kuat sampai ajal menjemput,
Sehingga kita termasuk orang yang husnul khotimah. Aamiin…
Ibu tua itu namanya ANNE MARIE SCHIMMEL, ahli terkemuka dalam literature Islam & mistisisme (tasawuf), berkebangsaan Jerman, sebagai profesor mengajar di tiga universitas terkenal pada tiga Negara berbeda, dikenal memiliki ingatan fotografis.
Wafat tahun 2003 di usia 80 tahun, entah bagaimana tentang keimanannya di akhir hidupnya.
“BETAPA MAHALNYA HIDAYAH. SETINGGI-TINGGINYA ILMU, SELUAS-LUASNYA PENGETAHUAN, SEDALAM-DALAMNYA PEMIKIRAN, DAN SEKUAT-KUATNYA HAFALAN AL-QUR’AN 30 JUZ DAN HADlTS TIDAKLAH MAMPU MENGGAPAI HIDAYAH KARENA HIDAYAH DATANGNYA DARI RAHMAT ALLAH, SEBAGAIMANA SEORANG HAMBA MASUK SYURGA KARENA RAHMAT-NYA.
Tidaklah cukup hafal Al-Qur’an dan hadist. MaasyaaAllaah. Sujud syukurku pada -Mu ya Rabb, atas nikmat hidayah ini.
Banyak-Banyaklah Bersyukur, karena kita diberi nikmat beragama islam, Semoga setiap tindakan dan ungkapan syukur kita selalu mendekatkan kita kepada Allah dan menjadikan kita hamba-Nya yang bersyukur dan tunduk. (berbagai sumber/sdn)
