MASJIDALABRAR.COM – Dr. H. Tanri Abeng, MBA Bin Palehe, meninggal dunia pada Minggu, 23 Juni 2024 di RS Medistra Jakarta. Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Simprug Golf XIII No. 19, Jakarta Selatan.
Almarhum meninggalkan anak-anak yaitu Emil Abeng, Edwin Abeng, dan Andara Novrianda, serta cucu-cucunya, Nabila Abeng, Indina Abeng, Jasmine Abeng, dan Jennaira Abeng.
Siapa Tanri Abeng? Tanri Abeng lahir di Kepulauan Selayar pada 7 Maret 1942. Ia menikah dengan Farida Nasution. Tanri Abeng adalah lulusan Universitas Hasanuddin, Universitas Gadjah Mada (2010) dan University at Buffalo (North Campus).
Mendiang menulis berbagai buku, di antaranya “Profesi Manajemen: Kristalisasi Teori dan Praktik Pembelajaran Manajemen Korporasi, Lembaga Nirlaba, dan Pemerintahan”.
Tanri Abeng adalah seorang pengusaha ternama di Indonesia dan pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan BUMN pertama pada periode 16 Maret 1998 hingga 20 Oktober 1999.
Ia masuk ke dunia politik pada 1991 dan mewakili Golkar di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pada 1998, ia ditunjuk oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN di Kabinet Pembangunan VII dan kemudian melanjutkan jabatan tersebut di Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah Presiden Habibie.
Sebagai profesional, alumnus Universitas Hasanuddin ini pernah menjadi Komisaris Utama PT Telkom Indonesia pada 2024.
Pada 2010, Tanri Abeng menyelesaikan pendidikan Doktor dalam Ilmu Multidisiplin dari UGM. Setelah lebih dari empat dekade berkarir di perusahaan multinasional dan pemerintahan, pada 2011 ia mendirikan Universitas Tanri Abeng di Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Pendanaan untuk mendirikan kampus ini diperoleh dari hasil penjualan Hotel Aryaduta yang ia miliki bersama James Riady (pemilik Lippo Group) pada 1995 di Makassar.
Pada awal 2012, Tanri menjabat sebagai CEO OSO Group, menggantikan Oesman Sapta Odang. OSO Group bergerak di bidang pertambangan, perkebunan, transportasi, properti, dan hotel.
Tanri Abeng dikenal sebagai “Manajer Satu Miliar” dan menjabat dua kali sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN selama masa pemerintahan Presiden Soeharto dan BJ Habibie.
Tanri Abeng lahir dari keluarga petani miskin di Kepulauan Selayar. Pada usia 10 tahun, ia sudah yatim piatu dan tinggal dengan kerabatnya di Makassar. Untuk menyelesaikan pendidikannya, Tanri menjual salinan catatan sekolahnya kepada siswa lain dan bekerja keras untuk berprestasi di sekolah.
Ia kemudian dipilih untuk program Pertukaran American Field Service (AFS) yang memberinya kesempatan untuk tinggal di Amerika Serikat selama satu tahun. Setelah kembali ke Indonesia, Tanri melanjutkan studinya di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dan memperoleh gelar Master of Business Administration dari State University of New York di Buffalo.
Setelah menyelesaikan studi MBA, Tanri dipekerjakan sebagai trainee manajemen oleh Union Carbide Corporation. Pada usia 29 tahun, ia dipromosikan menjadi direktur keuangan dan sekretaris perusahaan, menjadikannya eksekutif termuda di perusahaan.
Karirnya terus melesat, termasuk bekerja di Singapura dan memimpin operasi pemasaran Union Carbide untuk Timur Tengah, Asia, dan Afrika.
Pada 1979, Tanri memutuskan pindah kerja ke PT Perusahaan Bir Indonesia, produsen bir Heineken di Indonesia, sebagai CEO. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan tersebut berhasil mengatasi berbagai tantangan dan mencatat rekor penjualan dan keuntungan.
Pada 1991, Tanri memasuki dunia politik dan ditunjuk untuk mewakili Golkar di MPR. Pada 1998, ia diangkat menjadi Dewan Ketahanan Ekonomi Nasional untuk memberi nasihat kepada Presiden Soeharto tentang kebijakan ekonomi.
Pada Maret 1998, ia diangkat menjadi Menteri Negara Pendayagunaan BUMN pertama dan meluncurkan program reformasi untuk meningkatkan nilai BUMN. Tanri Abeng dikenal sebagai sosok yang berhasil merombak dan memperbaiki BUMN yang bermasalah.
Ia mengusulkan pembentukan 10 holding BUMN, termasuk merger beberapa bank BUMN menjadi Bank Mandiri. Tanri Abeng meninggalkan warisan yang besar dalam dunia bisnis dan pemerintahan di Indonesia.
Komitmen untuk BUMD Sulsel ; Tanri Abeng, mantan Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pertama di Indonesia, kini menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroda (BUMD) Provinsi Sulsel.
Iapun bertekad menjadikan Perseroda Sulsel sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) terbaik sekaligus contoh bagi perusahaan daerah yang ada di Indonesia.
“Walaupun belum banyak yang hadir pada acara ini, tapi berita akan direvitalisasinya BUMD Sulsel, mudah-mudahan menjadi model BUMD di seluruh Indonesia,” ungkap Tanri Abeng, pada malam ramah tamah Pemprov Sulsel dengan BUMD dan seluruh pengusaha di Sulsel, di Aula Tudang Sipulung, Rujab Gubernur Sulsel, Selasa malam, 9 Januari 2024.
Menurut Tanri Abeng, pembangunan negara harus dimulai dari daerah seperti Provinsi Sulsel ini. Apalagi pembangunan itu ada keterlibatan aktor-aktor ekonomi dan pengusaha.
“Saya yakin bahwa pembangunan negara dan bangsa itu harus terjadi di daerah. Dan karena saya meyakini bahwa pembangunan itu bersumber dari pelaku ekonomi,” kata Tanri Abeng, yang disambut tepuk tangan dari seluruh hadirin.
Sebagai solusi pembangunan, kata Tanri Abeng, harus dibangun dan dikelola dengan baik dulu BUMD di Provinsi Sulsel. Pengelolaan BUMD di Sulsel harus menjadi model bagi daerah lain. “Maka kita harus bangun Badan Usaha Milik Daerah di seluruh Indonesia dan kita buat modelnya di Sulawesi Selatan ini,” pungkasnya (sdn)
