MASJIDALABRAR.COM – Karya tulis Ustaz HM. Achmad Sewang di hari kedua Syawal, tepatnya Kamis 11 April 2024, kami muatkan kembali di blog ini, dengan beberapa moderasi redaksi, tanpa mengurangi makna.
Suatu periode dalam sejarah Indonesia menyaksikan dikotomi dalam pengetahuan, terutama pada era kolonial. Ironisnya, Islam tidak mengenal pembagian seperti ini dalam ilmu pengetahuan. Al-Ghazali, meskipun dikenal sebagai seorang sufi, sebenarnya juga seorang matematikawan yang mengagumkan.
Meski begitu, reputasinya sebagai seorang sufi lebih meluas di kalangan masyarakat Muslim di seluruh dunia. Ibn Rushd, seorang filsuf, juga terkenal sebagai seorang faqih. Salah satu karyanya, “Bidayatul Mujtahid”, menjadi referensi utama di Perguruan Tinggi Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ibn Sina, seorang ahli agama, juga terkenal sebagai seorang dokter dengan karyanya yang terkenal, “Kulliyatul Tibb”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di dalam abad klasik Islam, terdapat integrasi yang kuat antara berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Pembagian ini mulai terlihat pada masa Galileo Galilei yang mendukung teori heliosentris Copernicus. Teori ini menyatakan bahwa Matahari adalah pusat tata surya, dengan planet-planet mengorbitinya, termasuk Bumi. Pendapat ini bertentangan dengan model geosentris yang didominasi oleh pandangan gereja pada waktu itu, yang menyatakan bahwa Bumi adalah pusat tata surya.
Pendapat Galileo didukung oleh pengamatan menggunakan teleskopnya, yang menemukan bukti seperti empat bulan besar yang mengorbit Jupiter (yang kini dikenal sebagai bulan Galileo), serta fase Venus yang serupa dengan fase Bulan.
Semua ini mendukung gagasan bahwa tidak semua benda langit mengorbit Bumi. Pemahaman ini memberikan kontribusi besar terhadap revolusi ilmiah dan pengakuan bahwa model heliosentris adalah yang paling akurat dalam menjelaskan gerakan planet dan benda langit.
Namun, karena Galileo menentang pandangan gereja, ia dihukum penjara. Baru setelah lebih dari empat abad kematiannya pada tahun 1991, gereja mengakui kesalahannya. Namun, pengaruh pandangan tersebut telah terlanjur menyebar ke negara-negara kolonial seperti Indonesia.
Salam, Kompleks GPM, 11 April 2024
